Sudah lama saya terkadang enggan menaruh harapan besar pada pejabat publik, bahkan pada pemimpin yang saya pilih sendiri sekalipun. Prinsip saya sederhana: maju-mundurnya hidup saya tergantung pada usaha saya, negara hanya sebatas mengkondisikan dan mendorong.
Tapi pada akhirnya, harapan juga yang membuat kita tetap hidup penuh semangat. Sesekali, saya ingin meletakkan sebagian harapan itu ke pundak para pemimpin bangsa. Dulu, secercah harapan itu pernah saya berikan kepada Bapak Sandiaga Uno. Dengan latar belakangnya sebagai pengusaha dan investor, saya percaya pemikiran beliau bisa membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.
Namun takdir berkata lain, beliau tidak berhasil memenangkan kontestasi politik tanah air menjadi Orang Nomor 2 di republik ini, meski beliau masih dipercaya menjadi menteri, tapi sepertinya tempat itu bukan tempat yang tepat untuk beliau.
Sebenarnya agak lucu, mengingat saya berlatar belakang hukum. Biasanya orang hukum lebih menekankan kepastian hukum. Tapi bagi saya, ekonomi adalah mesin utama yang menentukan majunya bangsa. Kepastian hukum yang kuat memang memperkuat iklim usaha. Namun tidak cukup hanya bicara mengenai hukum, kalau hanya menekankan stabilitas hukum (aturan jelas, kontrak ditegakkan, korupsi ditekan) tapi tidak diimbangi dengan dorongan ekonomi, hasilnya akan stagnan. Ibarat jalan tol yang mulus tapi tidak ada mobil yang lewat. Alih-alih menjadi penggerak, hukum justru bisa berubah menjadi pagar yang membuat kita jalan di tempat.
Saya merasa sepuluh tahun terakhir roda ekonomi kita berjalan di tempat, bahkan makin berat dalam 3–4 tahun terakhir. Rasanya seperti seorang ibu yang menunggu seorang anak yang tak kunjung menunjukkan perkembangan berarti. Di satu sisi, seperti lagu Sheila on 7, saya ingin berhenti berharap. Tapi di sisi lain, harapan itu masih ada. Di titik inilah, saya berharap dengan cemas, akan ada energi segar yang bisa menggerakkan kembali mesin perekonomian bangsa.
Kemudian muncullah sosok fenomenal ini, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, dengan gaya bicaranya yang berani dan ceplas-ceplos, ia masuk sebagai Menteri Keuangan yang baru hasil reshuffle kabinet Presiden Prabowo. Publik skeptis, bahkan mengecam keras beberapa kali penampilan beliau di muka publik. Banyak yang berangggapan beliau sama sekali bukan orang yang tepat menggantikan Menteri Keuangan yang lama. Jujur, saya juga sempat sedikit mengernyitkan kening mendengar beberapa kali celetukannya, namun masih wait and see apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa hari kemudian, saya pribadi mulai melihat angin segar arah kebijakan ekonomi aktif yang beliau gaungkan. Pergeseran paradigma ekonomi “aman dulu” ke “bergerak dulu” sangat membuat harapan saya kembali membuncah. Publik pun mulai menyambut positif. Yang awalnya publik skeptis karena gaya bicaranya, berbalik menyenangi beliau, bahkan banyak yang nge-fans. Kebijakannya yang pro pertumbuhan menyebabkan pasar lebih “bergairah”. Tampaknya beliau ingin mendorong ekonomi lebih agresif daripada sekadar “menjaga stabilitas saja”. Gaya Ekonomi Koboi, meminjam istilah Pakar Hukum Tata Negara, Irmanputra Sidin.
Kalau kebijakan itu benar-benar jalan, ekonomi kita bukan cuma “selamat dari mogok,” tapi bisa tancap gas. Investasi membuat lapangan kerja, belanja publik menjadi bahan bakar, infrastruktur menjadi jalannya, dan daya beli rakyat menjadi bensinnya. Kombinasi tersebut bisa membuat mesin ekonomi melaju lebih kencang lebih dari sekadar bertahan hidup.
Untuk ibu-ibu penikmat pasar seperti saya, hal ini tentu sangat bagus, kita bisa lebih berharap suami kita pulang membawa nafkah yang lebih besar untuk kita olah di dapur, dan dihidangkan sebagai hidangan terbaik keluarga.
Mungkin terkadang kebijakannya terkesan grasa-grusu di mata para ahli ekonomi nasional dan pemegang kebijakan, bahkan dikhawatirkan melanggar hukum. Tapi bagi saya, itu bukan berarti ngawur, tapi mengambil risiko lebih besar terhadap pribadinya demi kesejahteraan bangsa sebesar-besarnya. Dan kadang memang itu yang dibutuhkan ketika ekonomi jalan di tempat. Poinnya di sini adalah: bergerak dengan risiko lebih baik daripada diam dengan aman, karena diam terlalu lama juga berbahaya.
Selama ini saya merasa kebijakan terlalu sibuk bermain aman. Paradigma ini mirip orang yang selalu menyimpan uang di tabungan karena takut rugi. Aman, pasti. Tapi tabungan tidak akan berkembang. Ada kalanya “uang yang harus bekerja” lewat investasi, belanja, guna menghidupkan “tetangga-tetangga kita” yang sedang berdagang, meski ada risiko. Sama halnya dengan ekonomi negara: kalau terlalu pasif, akhirnya stagnan. Memang negara tampak rapi di atas kertas, tapi rakyat di bawah tetap saja merasakan ekonomi yang hanya jalan di tempat.
Paradigma “bergerak dulu” yang mulai digaungkan Pak Purbaya memberi saya harapan baru. Bukan berarti sembrono, tapi ada saatnya kita berani melonggarkan ikat pinggang demi bisa berlari lebih jauh. Saya tahu, risiko itu pasti ada. Hukum alam: Apapun pilihannya, pasti ada resikonya: Tapi bagi saya, risiko lebih baik daripada stagnansi.
Saya menaruh harapan besar, dan merasa sangat bergairah bahwa perekonomian akan segera membaik. Kalau kali ini benar-benar dijalankan, mungkin inilah pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir saya kembali menaruh harapan pada pemimpin. Pak Purbaya, I’m rooting for you! Pak Prabowo, you’re doing great by choosing him!!
Jakarta, 24 September 2025
– Kirana Sidin –
Sumber Foto: Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden
