“This is the Bahasa Indonesia version of “Settled Is Not the Same as Finished”, written for Indonesian readers.”
Dalam perjalanan parenting saya, ada satu prinsip yang terus saya pelajari dan dalami: untuk membentuk anak yang baik, tangguh, dan selaras dengan zamannya, orang tua perlu terus bertumbuh membentuk versi terbaik dirinya. Dan di titik inilah banyak dari kita tanpa sadar berhenti, bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa sudah cukup. Bukan karena kita dituntut sempurna, tapi karena pertumbuhan tidak bisa dipaksakan, ia menular lewat cara kita menjalani hidup sehari-hari, disadari atau tidak, terutama oleh anak yang menyerapnya tanpa filter.
Ini memang unpopular opinion, tapi pertumbuhan sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai. Menganggap diri “sudah selesai bertumbuh” hanya karena usia bertambah atau karena kita sudah jadi orang tua, adalah sebuah kesalah pahaman, dan sering kali bukan tanda kedewasaan, melainkan berhenti berproses dan menyebutnya kematangan, padahal di situlah banyak masalah justru mulai mengeras.
Kita juga sering mendengar kalimat yang terdengar bijak: “Yang penting orang tuanya sudah beres dengan hidupnya sendiri.” Sekilas masuk akal. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kalimat ini sering disalahartikan. “Beres” sering dipahami sebagai hidup yang rapi, emosi yang stabil, atau persoalan hidup yang dianggap sudah selesai. Padahal, dalam banyak kasus, itu bukan keberesan, melainkan kelelahan yang dibungkus penerimaan. Masalahnya, ketika kita salah memahami kata “beres”, yang kita hentikan bukan persoalan hidupnya, melainkan kejujuran untuk melihat apa yang harus dibereskan.
Makna “beres” yang lebih jujur justru sederhana, tapi menantang. Bukan berarti kita tidak punya masalah melainkan kita tahu masalah mana yang masih ada dan mau mengelolanya. Bukan berarti emosi selalu tenang, tapi kita cukup sadar untuk tidak melemparkan emosi itu ke anak.
Dan yang harus kita sadari, di balik peran sebagai orang tua, kita tetaplah individu yang utuh. Kita datang dengan karakter, pola emosi, cara pandang, dan nilai hidup masing-masing. Dan parenting, mau tidak mau, suka atau tidak suka, selalu berjalan melalui siapa kita, bukan hanya lewat apa yang kita ajarkan.
Anak-anak pun tidak belajar terutama dari nasihat terbaik kita. Mereka belajar dari cara kita bereaksi saat lelah, dari cara kita memperlakukan diri sendiri saat gagal, dan dari bagaimana kita bertanggung jawab atas emosi kita sendiri. Hal-hal kecil yang sering tidak kita sadari, tapi justru paling mereka serap. Anak tidak meniru apa yang kita maksudkan, mereka menyerap apa yang berulang, seperti spons.
Idealnya, karakter dan cara pandang yang kita miliki membuat kita cukup utuh, tenang, dan sadar menghadapi hidup. Ketika itu belum terjadi, anak hampir selalu ikut menanggung sisanya, padahal itu bukan bagian yang seharusnya mereka pikul: emosi yang tidak kita akui, ekspektasi yang tidak kita sadari, dan luka lama yang bocor lewat respons sehari-hari. Di sanalah kendali diri mulai goyah, dan ini bukan soal orang tua baik atau buruk. Ini soal bagian diri yang tidak kita sadari, dan selama ia tidak disadari, ia akan terus bekerja.
Di sisi lain, kita hidup di zaman di mana buku, kelas, dan seminar parenting tersedia di mana-mana. Pengetahuan bukan lagi masalah utama; yang jauh lebih langka justru keberanian untuk ikut berubah. Sejujurnya, di zaman ini kita sering tidak benar-benar berhenti bertumbuh, kita hanya menggantinya dengan pengetahuan, lalu merasa sudah “belajar dan bertumbuh”. Padahal, belajar tentang parenting sangat berbeda dengan bertumbuh sebagai orang tua: yang satu menambah referensi, yang lain menuntut kita menata ulang cara merasa dan bereaksi.
Ilmu bisa memberi kita kalimat yang tepat. Tapi tanpa pertumbuhan batin, kalimat itu sering keluar dari hati yang lelah dan belum selesai. Metode pun mudah berubah menjadi topeng: rapi di luar, rapuh di dalam. Bukan ilmunya yang keliru; sering kali kitalah yang berharap ilmu bekerja tanpa menuntut perubahan diri.
Pada akhirnya, parenting tidak pernah netral. Ia selalu berjalan melalui kondisi batin orang tuanya. Dan tanpa kesediaan untuk terus bertumbuh, yang kita wariskan pada anak bukan ketenangan, melainkan pola lama dengan bahasa yang lebih modern.
Kita sering mendengar analogi masker oksigen di pesawat. Dipasang ke diri sendiri dulu, bukan karena egois, tapi karena tanpa napas kita tidak bisa menolong siapa pun. Dalam parenting, prinsipnya kurang lebih sama. Merawat diri, mengelola emosi, dan terus bertumbuh bukan tambahan, itu fondasi.
Usia hanyalah angka. Pertumbuhan tidak mengenal peran atau fase hidup. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti belajar, melainkan berani bertanggung jawab atas bagian diri yang masih perlu dibereskan.
Parenting bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu. Ia tentang sejauh apa kita bersedia bertumbuh. Bukan menjadi orang tua yang sudah selesai, tapi cukup sadar untuk hadir dengan utuh, karena anak tidak membutuhkan kesempurnaan, mereka membutuhkan kehadiran yang utuh.
Karena pada akhirnya, anak tidak hidup bersama teori kita, mereka hidup bersama kondisi batin kita.
